Inisiator Piala Dunia Memberikan Pesan Mulia Sepak Bola Lewat Klub Buatannya

Posted by Ganas003 on 19.52 in ,

Tidak banyak yang tahu jika sepak bola di Paris bukan hanya milik Paris Saint Germain semata. Kedatangan pengusaha kaya dari Timur Tengah yang menggelontorkan dana, menciptakan PSG menjadi tim penuh kejutan dan dijadikan lambang kota Paris dari segi bal-balan. Padahal secara sejarah, Paris bukan hanya sebuah kota yang diwakilkan oleh satu klub saja, melainkan ada beberapa klub yang terlahir di kota mode ini.


Dari sekian nama klub yang terlahir menyerupai Athletic Club de Boulogne-Billancourt, FCM Aubervilliers, Club Francais, Gallia Club Paris, Paris FC, Maccabi Paris, The White Rovers, hingga US Suisse Paris, tak ada yang menarik dan mempunyai dongeng panjang layaknya Red Star Paris atau Red Star Football Club. Tidak menyerupai klub yang disebutkan sebelumnya yang mana beberapa diantaranya ada yang karam, Red Star merupakan tim yang hingga hari ini tetap eksis.


Tidak terlalu berjaya karena hanya mengoleksi 5 trophy Coupe De France (piala liga) dan dua kali jadi jawara Ligue 2, menciptakan Red Star kurang begitu dikenal publik dunia. Namun, jika Bung mau mengetahui lebih dalam, salah seorang yang mendirikan Red Star yaitu mantan orang nomor satu di FIFA yang menjadi penggagas adanya Piala Dunia.


Jules Rimet Menjadi Otak Dibalik Hadirnya Red Star di Paris


Tidak banyak yang tahu jika sepak bola di Paris bukan hanya milik Paris Saint Germain sem Inisiator Piala Dunia Menyampaikan Pesan Mulia Sepak Bola Lewat Klub Buatannya

Sumber : FootballNostalgia.com


Jules Rimet yaitu mantan orang nomor satu FIFA yang mencanangkan adanya kompetisi Piala Dunia. Saat masih muda, Rimet hanya seorang putra pemilik toko kelontong. Awalnya, Julies Rimet semasa dewasanya yaitu seorang pengacara hingga pada kesudahannya beliau mengurusi sepak bola. Padahal secara latar belakang sangat berbeda, karena Rimet merupakan orang yang malah kerap bermain anggar serta lari.


Namun, ia mempunyai alasan mulia kenapa menentukan sepak bola sebagai bidang yang ditekuninya. Sebab Rimet percaya jika dengan sepak bola, dunia sanggup disatukan. Ia pun coba mewujudkannya dan dimulai dengan membentuk Red Star. Salah satunya dengan menolak diskriminasi anggotanya berdasarkan kelas. Lantaran bagi Rimet semua orang berhak menawarkan bantuan terhadap klub.


Keluh Kesah Dialami Dengan Menjajaki Bermacam Kancah Lewat Berbagai Kasta


Tidak banyak yang tahu jika sepak bola di Paris bukan hanya milik Paris Saint Germain sem Inisiator Piala Dunia Menyampaikan Pesan Mulia Sepak Bola Lewat Klub Buatannya

Sumber : WikimediaCommons.com


Setelah Rimet menjadi orang nomor wahid di federasi sepak bola dunia menjadi masa jayanya Red Star, tepatnya pada tahun 1920-an, dengan memenangkan empat gelar Coupe de France. Sampai kejayaan itu menciptakan Red Star sanggup disandingkan atau disejajarkan dengan klub Perancis menyerupai Nice, Rennes, hingga Sochaux yang menciptakan kompetisi tingkat utama.


Red Star nampaknya belum sanggup mengimbangi iklim sepak bola tersebut, sehingga tim ini tampil secara kelabakan dan kerap terdegradasi. Bahkan Red Star merupakan klub yang selalu bolak-balik di kasta sepak bola Perancis. Di tahun 2003 tim ini mengalami hambatan finansial dengan turun ke kasta ke-6. Tiga tahun berselang, perlahan tapi niscaya tim besutan Jules Rimet ini pun bangkit, hingga bercokol di Ligue 2 pada tahun 2015.


Menyelaraskan Klub dengan Budaya dan Nilai Kesenian


Tidak banyak yang tahu jika sepak bola di Paris bukan hanya milik Paris Saint Germain sem Inisiator Piala Dunia Menyampaikan Pesan Mulia Sepak Bola Lewat Klub Buatannya

Sumber : Footyheadlines.com


David Bellion, mantan penyerang Setan Merah ditunjuk menjadi Direktur Kreatif Red Star, yang mengemban kiprah untuk menghubungkan Red Star dengan budaya, seni, hingga gaya hidup. Bahkan berdasarkan David, Red Star bukanlah sebuah mesin tim yang difokuskan kepada kemenangan melainkankan sebagai simbol kebebasan dan kreativitas.


Ide-ide yang dituangkan David pun sangat cemerlang, salah satunya dengan mengadakan Red Star Lab yang bertujuan mengedukasi bawah umur perguruan Red Star pada bidang lain Bung, menyerupai fotografi, jurnalistik, memasak, hingga menari. Bagian paling kerennya lagi yaitu dikala klub ini meneken kontrak sponsor dengan media hipster milenials asal Kanada, VICE, pada animo 2017-2018.


Red Star Menjadi Bukti Bahwa Tak Ada yang Namanya Diskriminasi


Tidak banyak yang tahu jika sepak bola di Paris bukan hanya milik Paris Saint Germain sem Inisiator Piala Dunia Menyampaikan Pesan Mulia Sepak Bola Lewat Klub Buatannya

Sumber : Hans Lucas


Red Star mempunyai pendukung yang unik, bahkan mereka terlibat secara total dalam ruang lingkup sosial menyerupai membantu orang dalam kesulitan. Aktif secara politik yang bertujuan menumbuhkan toleransi terhadap semua orang. Kalau di tribun mereka bernyanyi tanpa henti meskipun papan skor menawarkan arahan jika timnya sedang dalam kondisi kritis.


Lewat langkah-langkah yang dilakukan internal klub menciptakan Red Star kebanjiran penonton di selesai pekan. Bukan hanya dari fans saja tetapi banyak sekali lapisan masyarakat menyerupai anak-anak, keluarga, imigran, dan perempuan. Sepak bola menyerupai bukan olahraga biasa bagi mereka tetapi wacana keberagaman dan kebersamaan sosial.


Menggelorakan Mimpi-mimpi Sederhana, Dibalik Potret Kejayaan Klub Lain Berkat Suntikan Dana


Tidak banyak yang tahu jika sepak bola di Paris bukan hanya milik Paris Saint Germain sem Inisiator Piala Dunia Menyampaikan Pesan Mulia Sepak Bola Lewat Klub Buatannya

Sumber : ProperMag.com


Ketik banyak klub yang hidup dan berjaya dengan suntikan dana bekerjsama mereka mengemban tanggung jawab besar yakni sebuah kejayaan. Ada duit, ada barang, itu istilah sederhananya dan apabila dicocokan kepada kondisi klub-klub gres kaya sekarang, ya memang masuk akal. Sebab tak mungkin juga ada orang menggelontorkan dana besar tanpa menawarkan jaminan.


Dibalik riuhnya sugar daddy yang berkeliaran ternyata masih ada klub sederhana macam Red Star Paris, yang menjadi dongeng unik dibalik peliknya persaingan sepak bola. Red Star memang masih berkompetisi secara sportif dengan mengincar kasta tertinggi, sebagaimana klub biasa lainnya, tapi yang paling penting yaitu amanat Jules Rimet yakni Red Star harus hadir guna menyatukan perbedaan dan menghapus diskriminasi tanpa membeda-bedakan.